Masa Remaja
Masa remaja (adolescence) adalah masa perkembangan
yang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa ini dimulai
sekitar pada usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 21 tahun.
Perkembangan Fisik pada Masa Remaja
Perubahan fisik secara dramatis mewarnai masa remaja,
terutama pada awal masa remaja. Perubahan besar atas fisik remaja adalah yang
melibatkan masa puber serta otak.
Perubahan pubertas. Penanda perubahan fisik pada
remaja adalah pubertas (puberty) yaitu masa saat tulang-tulang tumbuh besar dan
kematangan seksual terjadi, biasanya pada awal masa remaja. Secara umum, kita
mengetahui kapan individu akan mengalami pubertas, namun kita juga akan
mengalami kesulitan menentukan kapan pubertas tersebut dimulai dan berakhir. Terkecuali
pada menarche (siklus menstruasi
pertama wanita), tidak ada petunjuk khusus yang menjadi penandanya. Bagi anak
laki-laki, kumis pertama atau mimpi basah untuk pertama kali mungkin dapat
menjadi penanda dimulainya pubertas, namun keduanya sering kali lewat tanpa
disadari.
Pertumbuhan cepat dari segi tinggi dan berat badan
mewarnai perubahan pubertas yang terjadi kira-kira dua tahun lebih awal pada
anak perempuan dibandingkan pada anak laki-laki. Di Amerika Serikat sekarang
ini, rata-rata dimulainya pertumbuhan cepat tersebut adalah 9 tahun untuk anak
perempuan dan 11 tahun untuk anak laki-laki. Puncak dari perubahan pubertas
terjadi rata-rata pada usia 11,5 tahun untuk anak perempuan dan 13,5 tahun
untuk anak laki-laki.
Perubahan hormonal menjadi pusat dari perkembangan
pubertas. Konsentrasi dari sejumlah hormone meningkat secara tajam selama masa
puber. Testosterone, satu jenis androgen, diasosiasikan pada anak laki-laki
dengan perkembangan alat kelamin, peningkatan tinggi badan dan perubahan suara.
Estradiol, satu jenis estrogen, diasosiasikan dengan perkembangan buah dada,
rahim, dan tulang pada anak perempuan. Dalam satu penelitian, tingkat
testosterone meningkat dua kali lipat pada anak perempuan namun meningkat 18
kali lipat pada anak laki-laki selama masa puber; sama halnya, estradiol meningkat
dua kali lipat pada anak laki-laki namun meningkat delapan kali lipat pada anak
perempuan.
Para psikolog perkembangan meyakini bahwa perubahan
hormonal bertanggung jawab atas setidaknya pada sebagian naik turunnya emosi
remaja. Namun, hormone itu sendiri tidak bertanggung jawab atas perilaku
remaja. Misalnya, dalam satu penelitian, faktor-faktor sosial (seperti stress,
nilai yang buruk, dan masalah hubungan) menjelaskan perbedaan pada depresi
serta kemarahan anak perempuan dengan lebih kuat daripada factor-faktor
hormone. Lebih jauh lagi, stress, pola makan, aktivitas seks, dan depresi dapat
mengaktifkan atau menekan hormon.
Sebelumnya kita menganggap bahwa perkembangan fisik
dan sosial-emosional saling terkait. Kaitan tersebut terlihat paling jelas pada
masa puber ini. Anak laki-laki yang matang terlebih dahulu ketimbang teman
sebayanya cenderung menunjukkan hasil sosial-emosional yang lebih positif
seperti lebih populer dengan teman sebayanya dan memiliki harga diri yang lebih
tinggi. Dalam satu penelitian belum lama ini, anak laki-laki yang matang lebih
dahulu di masa remaja akan lebih sukses dan kecenderungan merokok atau minum
minuman kerasnya lebih rendah, dibandingkan dengan mereka yang matang 39 tahun
kemudian di masa dewasa tengah. Sebaliknya, anak perempuan yang matang lebih
awal cenderung kurang terbuka dan kurang populer, serta mereka lebih mungkin
menjadi perokok, menggunakan obat-obatan, aktif secara seksual, dan kurang
mengejar pendidikan.
Otak. Kemajuan dalam pencitraan otak manusia telah
memungkinkan para peneliti untuk menemukan beberapa perubahan penting pada otak
selama masa remaja. Perubahan-perubahan ini berfokus pada awal perkembangan di
amigdala, yang melibatkan emosi dan perkembangan selanjutnya pada korteks
prefrontal, bagian tertinggi otak yang melibatkan penalaran dan pengambilan
keputusan. Para ahli saraf dan psikolog perkembangan yang mempelajari remaja
berkesimpulan, perubahan-perubahan pada otak mungkin dapat menjelaskan mengapa
remaja sering menunjukkan emosi yang sangat kuat, namun belum dapat
mengontrolnya. Seakan menunjukkan otak mereka belum memiliki rem untuk
memperlambat emosi mereka. Oleh karena perkembangan, korteks prefrontal mereka
cenderung lambat dan perlu waktu untuk matang hingga pada usia dewasa awal,
maka remaja mungkin memiliki kekurangan dalam hal kemampuan kognitif mereka
untuk mengendalikan pencarian kepuasan secara efektif. Ketidakseimbangan
perkembangan ini mungkin yang bertanggung jawab atas peningkatan pengambilan
resiko serta beragam masalah lain pada remaja.
Perkembangan Kognitif
(Tahap Operasional Formal)
Sekitar
umur 11 tahun, pergeseran dari operasional konkret ke pemikiran operasional
formal dimulai pada beberapa remaja. Orang lain tidak mulai pergeseran pada
awal atau mencapai tingkat lanjutan berpikir sampai awal masa dewasa, dan
beberapa tidak pernah mencapai itu semua.
Tahap
Formal Operasional Piaget Piaget mengatakan bahwa remaja pada usia 11 hingga 15
tahun memasuki tahapan keempat dan paling terdepan dari perkembangan kognitif,
yang ia sebut sebagai tahap formal operasional. Hal ini ditandai dengan
pemikiran yang abstrak, idealis, dan logis.
Pemikiran formal operasional juga dipenuhi idealisme dan
kemungkinan-kemungkinan. Anak-anak sering berpikir secara konkret atau dengan
cara yang nyata dan terbatas, namun remaja mulai terlibat dalam spekulasi yang
lebih jauh tentang kualitas dari apa yang mereka dan orang lain inginkan. Dalam
pencarian yang ideal, pemikiran remaja sering kali terbang ke angan-angan
menuju kemungkinan di masa depan. Tidaklah aneh bila remaja menjadi tidak sabar
dengan hal-hal idela yang baru mereka temukan. Akan tetapi mereka akan
mengalami kebingungan antara hal ideal mana yang akan ia anut.
Pada saat yang sama dengan ketika remaja mulai berpikir lebih abstrak
dan idealis, mereka juga mulai berpikir lebih logis tentang masalah dan
pemecahannya yang memungkinkan. Penalaran hipotesis deduktif ini, seperti yang
dinamakan Piaget, merujuk pada kemampuan untuk membangun hipotesis atau tebakan
terbaik, mengenai cara-cara untuk memecahkan masalah dan menyimpulkan cara
terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Di sebuah
eksperimen klasik yang dilakukan oleh psikologi perkembangan Swiss Barbel
Inhelder dan Jean Piaget (1958), anak-anak dan remaja yang dari berbagai usia
diberikan dua bobot yang bisa dihubungkan di tempat yang berbeda pada lengan
skala; tugas mereka membuat skala seimbang. Umur tujuh tahun (masa awal tahap operasional konkret) umumnya tidak mampu membuat skala seimbang.
Mereka bisa memahami bahwa dua bobot tersebut harus ditempatkan pada lengan
skala yang berlawanan, tetapi sepertinya mereka tidak mengerti dimana
pentingnya bobot tersebut dikaitkan pada lengan skala. Pada akhir dari tahap
operasional konkret, usia 10 tahun, kebanyakan anak mampu untuk menyeimbangkan
skala setelah melewati percobaan dan kesalahan, tetapi mereka tidak mampu untuk
menjelaskan bagaimana itu bekerja.
Ketika berumur
14 tahun, banyak subjek atau persoalan yang telah sampai pada tahap pemikiran
operasional formal dan mampu untuk menjelaskan bahwa semakin jauh bobot ditempatkan dari
pusat (titik
tumpu) skala, maka semakin turun kekuatan yang diberikannya. Anak-anak ini
mampu, tanpa percobaan atau kesalahan, menempatkan bobot 5 kg dua kali lebih
jauh dari titik tumpu sebagai berat 10 kg di sisi lain. Mereka juga bisa dengan
mudah memutuskan dari prinsip ini bahwa bobot dari 3 dan 6 atau 2 dan 4 kg akan
seimbang pada kait yang sama yang digunakan oleh bobot 5 dan 10 kg. Mereka
mengerti prinsip abstrak itu adalah rasio bobot dan jarak yang penting, bukan
bobot spesifik yang terlibat dalam satu contoh. Mereka mampu untuk berpikir
dalam istilah logika abstrak.
Walaupun
sebagian besar remaja telah mencapai tingkat alasan operasional formal,
pengetahuan mereka sering belum matang. Ini tidak terlalu
mengejutkan; mereka telah mengembangkan kemampuan untuk beralasan secara
abstrak namun memiliki sedikit pengalaman untuk mendasarkan pemikiran abstrak
mereka. Secara khusus, David Elkind (1967, Elkind & Bowen, 1979) telah
menunjukkan bahwa remaja seringkali memiliki bentuk egosentrisme, walaupun
berbeda dengan egosentrisme anak-anak muda, yang secara simultan mengubah
persepsi mereka terhadap kenyataan. Menurut Elkind, ada empat ciri utama egoisme remaja:
1.
Khalayak khayal. Banyak
remaja bertindak seolah-olah mereka percaya bahwa penonton menonton semua yang
mereka lakukan. Jika mereka tersandung, terbata-bata, atau memakai pakaian yang
salah, semua orang akan memperhatikan dan membicarakannya.
2.
Pribadi fabel. Remaja
sering percaya bahwa tidak ada yang memiliki masalah yang sama atau mungkin
mengerti apa
yang sedang dia alami.
3.
Kemunafikan. Remaja sering kali setuju untuk menyalin pekerjaan rumah orang
lain, tapi seorang guru yang meninggalkan kelas untuk menerima telepon pribadi
singkat tidak bertanggung jawab di mata remaja.
4.
Pseudostupidity. Elkind
percaya bahwa remaja sering menggunakan logika yang terlalu menyederhanakan.
Misalnya, ketika remaja
mengatakan, “Jika pecandu alkohol tahu bahwa mereka akan meninggal
karena sirosis hati, mengapa mereka tidak berhenti?” Mereka gagal mempertimbangkan banyak
faktor yang berkontribusi
terhadap kecanduan alkohol. Kadang-kadang diubah sedikit oleh
egosentrisme mereka, membuat hubungan mereka satu sama lain dan dengan orang dewasa lebih sulit.
Egosentrisme
Remaja Terutama pada awal masa remaja, pemikiran seorang remaja bersifat
egosentris. Egosentrisme remaja (adolescent
egocentrism) melibatkan kepercayaan bahwa orang lain sama terlibatnya
dengan dirinya, bahwa dirinya unik, dan bahwa ia kebal (Elkind, 1978).
Egosentrisme remaja berarti remaja merasa bahwa orang lain menyadari dan
memerhatikan mereka daripada yang sebenarnya.
Aspek dari egosentrisme remaja yang dapat menimbulkan kerusakan paling
besar adalah rasa kekebalan. Keyakinan ini akan mendorong perilaku seperti
kebut-kebutan, penggunaan obat-obatan terlarang, percobaan bunuh diri, dan
perilaku seks yang tidak aman sehingga terkena penyakit menular seksual atau
kehamilan remaja. Bayangkan seorang remaja perempuan yang mendengarkan temannya
menjadi hamil. Ia mungkin mengatakan, “Saya tidak akan pernah membiarkan hal
itu terjadi pada saya” dan kemudian melakukan hubungan seks yang tidak aman di
minggu berikutnya. Rasa kekebalan yang ia miliki menyebabkan dirinya bertindak
dengan cara yang berisiko tinggi.
Salah satu catatan positif, rasa kekebalan remaja juga mendorongnya
untuk berindak berani dalam menolong orang lain pada kondisi berbahaya.
Perkembangan Sosial dan Emosional
Pergeseran
dari masa kanak-kanak sampai remaja dan dari masa remaja sampai dewasa ditandai
oleh perubahan dalam lingkungan emosional dan sosial kehidupan kita.
Perkembangan Sosial Remaja. Remaja juga menunjukkan perubahan yang
ditandai dalam hubungan sosial mereka. Masa remaja adalah masa yang melayang,
dan kadang-kadang melepaskan diri dari keluarga. Terutama awal pubertas membawa
jarak jauh dari orang tua (Arnett, 1999; Galambos, 1992). Teman remaja,
termasuk pasangan intim (Diamond, Fagundes, & Butterworth, 2010), sering
menjadi orang terpenting dalam hidup remaja. Pergeseran pedoman dari orangtua
ke teman dapat dilihat dalam peningkatan dramatis sesuai dengan gagasan dan penilaian
kelompok sebaya yang terjadi pada masa pubertas (sekitar usia 11 sampai 13 tahun) namun
menurun dari usia 15 tahun.
Orangtua dan Teman Sebaya Orangtua dan teman sebaya merupakan pengaruh terbesar
pada perkembangan remaja (Bukowski, Brendgen & Vitaro, 2007; Grusec &
Davidov, 2007). Salah satu tugas perkembangan yang penting bagi remaja adalah
kemampuan untuk membuat keputusan yang kompeten dengan cara yang semakin
mandiri (Collins & Steinberg, 2006). Untuk membantu remaja mencapai potensi
penuh mereka, peranan orangtua yang paling penting adalah dengan menjadi
manajer yang efektif. Dengan cara mampu menemukan informasi, melakukan kontak,
membantu menyusun pilihan keturunannya, memberikan pengarahan, serta melakukan pengawasan
efektif terhadap remaja. Dengan menjalankan peran manajer ini, orangtua
membantu remaja untuk menghindari lubang jebakan dan berhasil melewati
segerombolan pilihan dan keputusan yang mereka hadapi (Parke & Buriel,
2006).
Selama masa remaja, individu
menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman sebayanya dibandingkan dengan
ketika mereka masih anak-anak. Pengaruh dari teman sebaya ini dapat berupa hal
positif maupun negatif (Rubin, Bukowski, & Parker, 2006).
Emosi Remaja. Sejak tahun 1904, ketika teks Amerika pertama
tentang psikologi remaja diterbitkan oleh G. Stanley Hall, sebuah debat terus
berlanjut mengenai sifat emosi remaja. Apakah ini adalah periode bahagia, atau karena
Hall akan memilikinya, saat "badai dan stres"? Seperti banyak
perdebatan filosofis yang akhirnya diselesaikan dengan bukti ilmiah,
kebenarannya terletak di antara sudut pandang ekstrem. Bertentangan dengan
pandangan remaja yang populer, penelitian saat ini menunjukkan bahwa sekitar
80% remaja relatif bahagia dan menyesuaikan diri dengan baik (Armett, 1999.
Shaffer & others, 1996). Di sebagian besar wilayah, remaja juga disesuaikan
dengan anak-anak dan orang dewasa, namun ada tiga area di mana remaja memiliki
masalah lebih besar daripada orang tua dan lebih muda:
1.
Konflik orang tua dan anak. Konflik
antara orang tua dan anak-anak meningkat pada masa remaja awal dan tetap umum
sampai mereka mengalami kemunduran pada masa remaja akhir (Arnett, 1999). Ketangguhan orang biasanya berfokus pada
kencan, berapa lama remaja harus jauh dari rumah, ke mana mereka bisa pergi,
dan siapa mereka dengan (yang sering mencerminkan perbedaan pandangan orang tua
dan remaja tentang seks, alkohol, narkoba, kenakalan, dan keamanan).
2.
Perubahan
suasana hati. Banyak penelitian sekarang menunjukkan bahwa,
dibandingkan dengan masa kanak-kanak dan dewasa, remaja mengalami lebih banyak
perubahan suasana hati dan suasana hati yang lebih positif dan negatif (Arnett,
1999; Roberts, Caspi, & Moffitt, 2001). Dibandingkan dengan anak-anak dan
orang dewasa, remaja juga cenderung merasa tidak sadar diri, malu, canggung,
kesepian, gugup, dan diabaikan.
3.
Perilaku berisiko. Selama
masa remaja, ada peningkatan tajam dalam jumlah perilaku yang menghadapkan anak
pada bahaya. Ada peningkatan minuman yang ditandai. untuk mabuk, penggunaan
narkoba, mengemudi dengan sembrono (dan kecelakaan mobil tanpa hubungan seks,
agresi, dan tingkah laku nakal, yang dan tidak menurun sampai awal masa dewasa
(Arnett, 1999, Steinberg, 2009). Tingkat bunuh diri juga meningkat pada masa
remaja. (tapi masih jauh lebih rendah daripada di masa dewasa) Mengapa
perubahan yang tidak menguntungkan ini terjadi pada masa remaja? Tidak ada yang
tahu pasti tapi nampak bahwa masa remaja adalah masa sulit bagi banyak pemuda
untuk menemukan alasan. Perubahan di otak, lonjakan emisi seks dan konflik
mengenai otonomi selama periode transisi alami ini tampaknya melibatkan (Amett,
1999: Casey, Jones & Hare, 2008, Spear, 2000).
Teori Erikson dan Perkembangan Identitas Seperti yang kita lihat pada bagian perkembangan
sosial-emosional anak-anak, teori sepanjang hayat Erik Erikson menyatakan bahwa
seseorang melewati delapan tahap perkembangan psikososial. Dalam delapan tahap
yang diajukan Erikson (1968), gagasan tentang pembentukan identitas selama masa
remaja merupakan sumbangan terbesarnya bagi ilmu psikologi. Tahapan ini
mengubah cara berpikir kita tentang remaja (Kroger, 2007). Misalnya, Erikson
mendorong kita untuk tidak melihat remaja sebagai makhluk yang didorong hormon
saja, namun, juga sebagai individu yang mencari siapa diri mereka dan mencari
tempat di dunia ini.
Teori Erikson ditandai dengan
perhatian utamanya pada tahap kelima dari perkembangan sosial-emosional, yaitu identity
versus identity confusion. Dalam mencari identitas (identity), remaja menghadapi tantangan untuk menemukan
siapa mereka, apa peran mereka dan ke mana mereka akan pergi di dunia ini.
Remaja dihadapkan dengan banyak peranan baru dan status dewasa baik dari segi
pekerjaan maupun percintaan. Bila mereka tidak mencari identitas mereka dengan
cukup pada tahap ini, maka mereka akan mengalami kebingungan mengenai siapa
mereka. Dengan demikian, menurut Erikson, orangtua harus mengizinkan remaja
untuk menggali beragam peran dan jalan, serta tidak memaksakan identitas
tertentu pada mereka.
Erikson menjelaskan masa remaja
sebagai masa penangguhan. Masa penangguhan adalah celah pada waktu pada
perkembangan pikiran antara keamanan pada masa kanak-kanak dengan kemandirian
pada masa dewasa. Remaja yang menggunakan masa penangguhan ini untuk mencari
alternatif-alternatif, akan dapat mencapai beberapa resolusi dari krisis
identitas, dan muncul dengan pengertian akan dirinya sendiri yang baru dan
dapat diterima. Mereka yang tidak berhasil menyelesaikan krisis ini akan
mengalami kebingungan, rasa tersiksa yang disebut Erikson sebagai identitiy confusion. Kebingungan ini
diekspresikan dalam satu dari dua cara: Entah individu tersebut menarik diri,
mengisolir diri mereka dari teman sebaya dan keluarga, atau ia meleburkan diri
dengan orang kebanyakan.
Referensi
Lahey, Benjamin. 2012. Psychology An Introduction. NewYork: McGraw-Hill Companies, Inc.
King, L.A. 2010. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta: Penertbit
Salemba Humanika.
Sangat bermanfaat
BalasHapusMantap sekali sangat bermanfaat
BalasHapusMakasih informasinya^^
BalasHapusmantap sekali dan bermanfaat
BalasHapusWah keren nih,sangat menginspirasi
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusMantul
BalasHapusLumayan untuk nambah ilmu
BalasHapusbahasa mudah dipahami. terimakasiih
BalasHapusnice
BalasHapuswah jdu tau gmn perkembngan remaja, terimahkssih
BalasHapusMantulll
BalasHapusMantulll
BalasHapusBermanfaat sekalii
BalasHapus