Minggu, 16 Desember 2018

Psikologi Perkembangan Remaja

Masa Remaja
Masa remaja (adolescence) adalah masa perkembangan yang merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Masa ini dimulai sekitar pada usia 10 hingga 12 tahun dan berakhir pada usia 18 hingga 21 tahun.
 Perkembangan Fisik pada Masa Remaja
Perubahan fisik secara dramatis mewarnai masa remaja, terutama pada awal masa remaja. Perubahan besar atas fisik remaja adalah yang melibatkan masa puber serta otak.
Perubahan pubertas. Penanda perubahan fisik pada remaja adalah pubertas (puberty) yaitu masa saat tulang-tulang tumbuh besar dan kematangan seksual terjadi, biasanya pada awal masa remaja. Secara umum, kita mengetahui kapan individu akan mengalami pubertas, namun kita juga akan mengalami kesulitan menentukan kapan pubertas tersebut dimulai dan berakhir. Terkecuali pada menarche (siklus menstruasi pertama wanita), tidak ada petunjuk khusus yang menjadi penandanya. Bagi anak laki-laki, kumis pertama atau mimpi basah untuk pertama kali mungkin dapat menjadi penanda dimulainya pubertas, namun keduanya sering kali lewat tanpa disadari.
Pertumbuhan cepat dari segi tinggi dan berat badan mewarnai perubahan pubertas yang terjadi kira-kira dua tahun lebih awal pada anak perempuan dibandingkan pada anak laki-laki. Di Amerika Serikat sekarang ini, rata-rata dimulainya pertumbuhan cepat tersebut adalah 9 tahun untuk anak perempuan dan 11 tahun untuk anak laki-laki. Puncak dari perubahan pubertas terjadi rata-rata pada usia 11,5 tahun untuk anak perempuan dan 13,5 tahun untuk anak laki-laki.
Perubahan hormonal menjadi pusat dari perkembangan pubertas. Konsentrasi dari sejumlah hormone meningkat secara tajam selama masa puber. Testosterone, satu jenis androgen, diasosiasikan pada anak laki-laki dengan perkembangan alat kelamin, peningkatan tinggi badan dan perubahan suara. Estradiol, satu jenis estrogen, diasosiasikan dengan perkembangan buah dada, rahim, dan tulang pada anak perempuan. Dalam satu penelitian, tingkat testosterone meningkat dua kali lipat pada anak perempuan namun meningkat 18 kali lipat pada anak laki-laki selama masa puber; sama halnya, estradiol meningkat dua kali lipat pada anak laki-laki namun meningkat delapan kali lipat pada anak perempuan.
Para psikolog perkembangan meyakini bahwa perubahan hormonal bertanggung jawab atas setidaknya pada sebagian naik turunnya emosi remaja. Namun, hormone itu sendiri tidak bertanggung jawab atas perilaku remaja. Misalnya, dalam satu penelitian, faktor-faktor sosial (seperti stress, nilai yang buruk, dan masalah hubungan) menjelaskan perbedaan pada depresi serta kemarahan anak perempuan dengan lebih kuat daripada factor-faktor hormone. Lebih jauh lagi, stress, pola makan, aktivitas seks, dan depresi dapat mengaktifkan atau menekan hormon.
Sebelumnya kita menganggap bahwa perkembangan fisik dan sosial-emosional saling terkait. Kaitan tersebut terlihat paling jelas pada masa puber ini. Anak laki-laki yang matang terlebih dahulu ketimbang teman sebayanya cenderung menunjukkan hasil sosial-emosional yang lebih positif seperti lebih populer dengan teman sebayanya dan memiliki harga diri yang lebih tinggi. Dalam satu penelitian belum lama ini, anak laki-laki yang matang lebih dahulu di masa remaja akan lebih sukses dan kecenderungan merokok atau minum minuman kerasnya lebih rendah, dibandingkan dengan mereka yang matang 39 tahun kemudian di masa dewasa tengah. Sebaliknya, anak perempuan yang matang lebih awal cenderung kurang terbuka dan kurang populer, serta mereka lebih mungkin menjadi perokok, menggunakan obat-obatan, aktif secara seksual, dan kurang mengejar pendidikan.
Otak. Kemajuan dalam pencitraan otak manusia telah memungkinkan para peneliti untuk menemukan beberapa perubahan penting pada otak selama masa remaja. Perubahan-perubahan ini berfokus pada awal perkembangan di amigdala, yang melibatkan emosi dan perkembangan selanjutnya pada korteks prefrontal, bagian tertinggi otak yang melibatkan penalaran dan pengambilan keputusan. Para ahli saraf dan psikolog perkembangan yang mempelajari remaja berkesimpulan, perubahan-perubahan pada otak mungkin dapat menjelaskan mengapa remaja sering menunjukkan emosi yang sangat kuat, namun belum dapat mengontrolnya. Seakan menunjukkan otak mereka belum memiliki rem untuk memperlambat emosi mereka. Oleh karena perkembangan, korteks prefrontal mereka cenderung lambat dan perlu waktu untuk matang hingga pada usia dewasa awal, maka remaja mungkin memiliki kekurangan dalam hal kemampuan kognitif mereka untuk mengendalikan pencarian kepuasan secara efektif. Ketidakseimbangan perkembangan ini mungkin yang bertanggung jawab atas peningkatan pengambilan resiko serta beragam masalah lain pada remaja.

Perkembangan Kognitif (Tahap Operasional Formal)

Sekitar umur 11 tahun, pergeseran dari operasional konkret ke pemikiran operasional formal dimulai pada beberapa remaja. Orang lain tidak mulai pergeseran pada awal atau mencapai tingkat lanjutan berpikir sampai awal masa dewasa, dan beberapa tidak pernah mencapai itu semua.

Tahap Formal Operasional Piaget Piaget mengatakan bahwa remaja pada usia 11 hingga 15 tahun memasuki tahapan keempat dan paling terdepan dari perkembangan kognitif, yang ia sebut sebagai tahap formal operasional. Hal ini ditandai dengan pemikiran yang abstrak, idealis, dan logis.
Pemikiran formal operasional juga dipenuhi idealisme dan kemungkinan-kemungkinan. Anak-anak sering berpikir secara konkret atau dengan cara yang nyata dan terbatas, namun remaja mulai terlibat dalam spekulasi yang lebih jauh tentang kualitas dari apa yang mereka dan orang lain inginkan. Dalam pencarian yang ideal, pemikiran remaja sering kali terbang ke angan-angan menuju kemungkinan di masa depan. Tidaklah aneh bila remaja menjadi tidak sabar dengan hal-hal idela yang baru mereka temukan. Akan tetapi mereka akan mengalami kebingungan antara hal ideal mana yang akan ia anut.
Pada saat yang sama dengan ketika remaja mulai berpikir lebih abstrak dan idealis, mereka juga mulai berpikir lebih logis tentang masalah dan pemecahannya yang memungkinkan. Penalaran hipotesis deduktif ini, seperti yang dinamakan Piaget, merujuk pada kemampuan untuk membangun hipotesis atau tebakan terbaik, mengenai cara-cara untuk memecahkan masalah dan menyimpulkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah.
Di sebuah eksperimen klasik yang dilakukan oleh psikologi perkembangan Swiss Barbel Inhelder dan Jean Piaget (1958), anak-anak dan remaja yang dari berbagai usia diberikan dua bobot yang bisa dihubungkan di tempat yang berbeda pada lengan skala; tugas mereka membuat skala seimbang. Umur tujuh tahun­­­ (masa awal tahap operasional konkret) umumnya tidak mampu membuat skala seimbang. Mereka bisa memahami bahwa dua bobot tersebut harus ditempatkan pada lengan skala yang berlawanan, tetapi sepertinya mereka tidak mengerti dimana pentingnya bobot tersebut dikaitkan pada lengan skala. Pada akhir dari tahap operasional konkret, usia 10 tahun, kebanyakan anak mampu untuk menyeimbangkan skala setelah melewati percobaan dan kesalahan, tetapi mereka tidak mampu untuk menjelaskan bagaimana itu bekerja.
Ketika berumur 14 tahun, banyak subjek atau persoalan yang telah sampai pada tahap pemikiran operasional formal dan mampu untuk menjelaskan bahwa semakin jauh bobot ditempatkan dari pusat (titik tumpu) skala, maka semakin turun kekuatan yang diberikannya. Anak-anak ini mampu, tanpa percobaan atau kesalahan, menempatkan bobot 5 kg dua kali lebih jauh dari titik tumpu sebagai berat 10 kg di sisi lain. Mereka juga bisa dengan mudah memutuskan dari prinsip ini bahwa bobot dari 3 dan 6 atau 2 dan 4 kg akan seimbang pada kait yang sama yang digunakan oleh bobot 5 dan 10 kg. Mereka mengerti prinsip abstrak itu adalah rasio bobot dan jarak yang penting, bukan bobot spesifik yang terlibat dalam satu contoh. Mereka mampu untuk berpikir dalam istilah logika abstrak.
Walaupun sebagian besar remaja telah mencapai tingkat alasan operasional formal, pengetahuan mereka sering belum matang. Ini tidak terlalu mengejutkan; mereka telah mengembangkan kemampuan untuk beralasan secara abstrak namun memiliki sedikit pengalaman untuk mendasarkan pemikiran abstrak mereka. Secara khusus, David Elkind (1967, Elkind & Bowen, 1979) telah menunjukkan bahwa remaja seringkali memiliki bentuk egosentrisme, walaupun berbeda dengan egosentrisme anak-anak muda, yang secara simultan mengubah persepsi mereka terhadap kenyataan. Menurut Elkind, ada empat ciri utama egoisme remaja:
1.             Khalayak khayal. Banyak remaja bertindak seolah-olah mereka percaya bahwa penonton menonton semua yang mereka lakukan. Jika mereka tersandung, terbata-bata, atau memakai pakaian yang salah, semua orang akan memperhatikan dan membicarakannya.
2.             Pribadi fabel. Remaja sering percaya bahwa tidak ada yang memiliki masalah yang sama atau mungkin mengerti apa yang sedang dia alami.
3.             Kemunafikan. Remaja sering kali setuju untuk menyalin pekerjaan rumah orang lain, tapi seorang guru yang meninggalkan kelas untuk menerima telepon pribadi singkat tidak bertanggung jawab di mata remaja.
4.             Pseudostupidity. Elkind percaya bahwa remaja sering menggunakan logika yang terlalu menyederhanakan. Misalnya, ketika remaja mengatakan, “Jika pecandu alkohol tahu bahwa mereka akan meninggal karena sirosis hati, mengapa mereka tidak berhenti?” Mereka gagal mempertimbangkan banyak faktor yang berkontribusi terhadap kecanduan alkohol. Kadang-kadang diubah sedikit oleh egosentrisme mereka, membuat hubungan mereka satu sama lain dan dengan orang dewasa lebih sulit.
Egosentrisme Remaja Terutama pada awal masa remaja, pemikiran seorang remaja bersifat egosentris. Egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) melibatkan kepercayaan bahwa orang lain sama terlibatnya dengan dirinya, bahwa dirinya unik, dan bahwa ia kebal (Elkind, 1978). Egosentrisme remaja berarti remaja merasa bahwa orang lain menyadari dan memerhatikan mereka daripada yang sebenarnya.
Aspek dari egosentrisme remaja yang dapat menimbulkan kerusakan paling besar adalah rasa kekebalan. Keyakinan ini akan mendorong perilaku seperti kebut-kebutan, penggunaan obat-obatan terlarang, percobaan bunuh diri, dan perilaku seks yang tidak aman sehingga terkena penyakit menular seksual atau kehamilan remaja. Bayangkan seorang remaja perempuan yang mendengarkan temannya menjadi hamil. Ia mungkin mengatakan, “Saya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada saya” dan kemudian melakukan hubungan seks yang tidak aman di minggu berikutnya. Rasa kekebalan yang ia miliki menyebabkan dirinya bertindak dengan cara yang berisiko tinggi.
Salah satu catatan positif, rasa kekebalan remaja juga mendorongnya untuk berindak berani dalam menolong orang lain pada kondisi berbahaya.
 Perkembangan Sosial dan Emosional
Pergeseran dari masa kanak-kanak sampai remaja dan dari masa remaja sampai dewasa ditandai oleh perubahan dalam lingkungan emosional dan sosial kehidupan kita.
Perkembangan Sosial Remaja. Remaja juga menunjukkan perubahan yang ditandai dalam hubungan sosial mereka. Masa remaja adalah masa yang melayang, dan kadang-kadang melepaskan diri dari keluarga. Terutama awal pubertas membawa jarak jauh dari orang tua (Arnett, 1999; Galambos, 1992). Teman remaja, termasuk pasangan intim (Diamond, Fagundes, & Butterworth, 2010), sering menjadi orang terpenting dalam hidup remaja. Pergeseran pedoman dari orangtua ke teman dapat dilihat dalam peningkatan dramatis sesuai dengan gagasan dan penilaian kelompok sebaya yang terjadi pada masa pubertas (sekitar usia 11 sampai 13 tahun) namun menurun dari usia 15 tahun.
Orangtua dan Teman Sebaya Orangtua dan teman sebaya merupakan pengaruh terbesar pada perkembangan remaja (Bukowski, Brendgen & Vitaro, 2007; Grusec & Davidov, 2007). Salah satu tugas perkembangan yang penting bagi remaja adalah kemampuan untuk membuat keputusan yang kompeten dengan cara yang semakin mandiri (Collins & Steinberg, 2006). Untuk membantu remaja mencapai potensi penuh mereka, peranan orangtua yang paling penting adalah dengan menjadi manajer yang efektif. Dengan cara mampu menemukan informasi, melakukan kontak, membantu menyusun pilihan keturunannya, memberikan pengarahan, serta melakukan pengawasan efektif terhadap remaja. Dengan menjalankan peran manajer ini, orangtua membantu remaja untuk menghindari lubang jebakan dan berhasil melewati segerombolan pilihan dan keputusan yang mereka hadapi (Parke & Buriel, 2006).
Selama masa remaja, individu menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman sebayanya dibandingkan dengan ketika mereka masih anak-anak. Pengaruh dari teman sebaya ini dapat berupa hal positif maupun negatif (Rubin, Bukowski, & Parker, 2006).
Emosi Remaja. Sejak tahun 1904, ketika teks Amerika pertama tentang psikologi remaja diterbitkan oleh G. Stanley Hall, sebuah debat terus berlanjut mengenai sifat emosi remaja. Apakah ini adalah periode bahagia, atau karena Hall akan memilikinya, saat "badai dan stres"? Seperti banyak perdebatan filosofis yang akhirnya diselesaikan dengan bukti ilmiah, kebenarannya terletak di antara sudut pandang ekstrem. Bertentangan dengan pandangan remaja yang populer, penelitian saat ini menunjukkan bahwa sekitar 80% remaja relatif bahagia dan menyesuaikan diri dengan baik (Armett, 1999. Shaffer & others, 1996). Di sebagian besar wilayah, remaja juga disesuaikan dengan anak-anak dan orang dewasa, namun ada tiga area di mana remaja memiliki masalah lebih besar daripada orang tua dan lebih muda:
1.             Konflik orang tua dan anak. Konflik antara orang tua dan anak-anak meningkat pada masa remaja awal dan tetap umum sampai mereka mengalami kemunduran pada masa remaja akhir (Arnett, 1999). Ketangguhan orang biasanya berfokus pada kencan, berapa lama remaja harus jauh dari rumah, ke mana mereka bisa pergi, dan siapa mereka dengan (yang sering mencerminkan perbedaan pandangan orang tua dan remaja tentang seks, alkohol, narkoba, kenakalan, dan keamanan).
2.             Perubahan suasana hati. Banyak penelitian sekarang menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan masa kanak-kanak dan dewasa, remaja mengalami lebih banyak perubahan suasana hati dan suasana hati yang lebih positif dan negatif (Arnett, 1999; Roberts, Caspi, & Moffitt, 2001). Dibandingkan dengan anak-anak dan orang dewasa, remaja juga cenderung merasa tidak sadar diri, malu, canggung, kesepian, gugup, dan diabaikan.
3.             Perilaku berisiko. Selama masa remaja, ada peningkatan tajam dalam jumlah perilaku yang menghadapkan anak pada bahaya. Ada peningkatan minuman yang ditandai. untuk mabuk, penggunaan narkoba, mengemudi dengan sembrono (dan kecelakaan mobil tanpa hubungan seks, agresi, dan tingkah laku nakal, yang dan tidak menurun sampai awal masa dewasa (Arnett, 1999, Steinberg, 2009). Tingkat bunuh diri juga meningkat pada masa remaja. (tapi masih jauh lebih rendah daripada di masa dewasa) Mengapa perubahan yang tidak menguntungkan ini terjadi pada masa remaja? Tidak ada yang tahu pasti tapi nampak bahwa masa remaja adalah masa sulit bagi banyak pemuda untuk menemukan alasan. Perubahan di otak, lonjakan emisi seks dan konflik mengenai otonomi selama periode transisi alami ini tampaknya melibatkan (Amett, 1999: Casey, Jones & Hare, 2008, Spear, 2000).
Teori Erikson dan Perkembangan Identitas Seperti yang kita lihat pada bagian perkembangan sosial-emosional anak-anak, teori sepanjang hayat Erik Erikson menyatakan bahwa seseorang melewati delapan tahap perkembangan psikososial. Dalam delapan tahap yang diajukan Erikson (1968), gagasan tentang pembentukan identitas selama masa remaja merupakan sumbangan terbesarnya bagi ilmu psikologi. Tahapan ini mengubah cara berpikir kita tentang remaja (Kroger, 2007). Misalnya, Erikson mendorong kita untuk tidak melihat remaja sebagai makhluk yang didorong hormon saja, namun, juga sebagai individu yang mencari siapa diri mereka dan mencari tempat di dunia ini.
Teori Erikson ditandai dengan perhatian utamanya pada tahap kelima dari perkembangan sosial-emosional, yaitu identity versus identity confusion. Dalam mencari identitas (identity), remaja menghadapi tantangan untuk menemukan siapa mereka, apa peran mereka dan ke mana mereka akan pergi di dunia ini. Remaja dihadapkan dengan banyak peranan baru dan status dewasa baik dari segi pekerjaan maupun percintaan. Bila mereka tidak mencari identitas mereka dengan cukup pada tahap ini, maka mereka akan mengalami kebingungan mengenai siapa mereka. Dengan demikian, menurut Erikson, orangtua harus mengizinkan remaja untuk menggali beragam peran dan jalan, serta tidak memaksakan identitas tertentu pada mereka.
Erikson menjelaskan masa remaja sebagai masa penangguhan. Masa penangguhan adalah celah pada waktu pada perkembangan pikiran antara keamanan pada masa kanak-kanak dengan kemandirian pada masa dewasa. Remaja yang menggunakan masa penangguhan ini untuk mencari alternatif-alternatif, akan dapat mencapai beberapa resolusi dari krisis identitas, dan muncul dengan pengertian akan dirinya sendiri yang baru dan dapat diterima. Mereka yang tidak berhasil menyelesaikan krisis ini akan mengalami kebingungan, rasa tersiksa yang disebut Erikson sebagai identitiy confusion. Kebingungan ini diekspresikan dalam satu dari dua cara: Entah individu tersebut menarik diri, mengisolir diri mereka dari teman sebaya dan keluarga, atau ia meleburkan diri dengan orang kebanyakan.

Referensi

Lahey, Benjamin. 2012. Psychology An Introduction. NewYork: McGraw-Hill Companies, Inc.
King, L.A. 2010. Psikologi Umum: Sebuah Pandangan Apresiatif. Jakarta: Penertbit Salemba Humanika.

14 komentar:

Sebuah Perjuangan

Langkah kaki terhenti dikala keraguan melanda hati... Menjalar ke seluruh tubuh tanpa henti... Ragu.. Ya, hingga jiwa pun tak mampu berka...